Pengaruh Pajak Penghasilan Dan Asset Perusahaan Pada Earnings Management

Kategori │jurnal

PENDAHULUAN

Tindakan manajemen laba sangat terkait dengan sistem akuntansi yang diterapkan perusahaan. Sistem akuntansi yang diterapkan perusahaan tersebut akan menghasilkan output perhitungan laba (rugi) bersih perusahaan dan dijadikan dasar untuk menghitung penghasilan perusahaan tersebut pada suatu tahun tertentu. Penghasilan suatu perusahaan akan dihitung berdasarkan catatancatatan, buku serta dokumen pendukung lainnya yang dikelola dalam suatu sistem akuntansi yang diterapkan dalam perusahaan.

Praktik manajemen laba yang dilakukan oleh manajer tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi kebebasan seorang manajer dalam menerapkan teknik-teknik untuk dapat menaikkan atau menurunkan laba perusahaannya. Terdapat beberapa hal yang dapat memotivasi manajemen untuk melakukan praktik manajemen laba menurut Scott (2000:359), yaitu motivasi rencana bonus, kontrak utang jangka panjang, motivasi perpajakan, penawaran saham perdana, penawaran obligasi perdana, dan motivasi politik. Penelitian ini didasari atas motivasi perpajakan dan motivasi politik dalam memotivasi pihak manajemen melakukan tindakan manajemen laba

Scott (2000:359) mengemukakan bahwa berbagai metode akuntansi digunakan pihak manajemen dalam rangka penghematan pajak. Undang-undang pajak penghasilan menentukan jenis-jenis penghasilan sebagai obyek pajak, namun pada umumnya penghasilan yang dinyatakan sebagai obyek pajak tidak secara spesifik mengatur saat pengakuan pendapatan dan biaya terkait. Dalam beberapa hal, wajib pajak mempunyai kebebasan di dalam membuat kebijakankebijakan akuntansi yang berkaitan dengan penentuan saat pengakuan pendapatan dan biaya, meskipun kebijakan akuntansi yang telah ditetapkan harus diterapkan secara taat asas atau konsisten dari tahun ke tahun. Celah ini dapat membuka peluang bagi manajemen untuk melakukan upaya-upaya untuk menunda atau mempercepat pengakuan pendapatan dan biaya, sehingga dapat menekan jumlah pajak yang akan dibayarkan (Setiawati, 2001).

Wenni (2009) dalam penelitiannya menemukan hasil yang lemah atau tidak signifikan bahwa adanya tindakan manajemen laba pada perusahaan atas pertimbangan beban pajak penghasilan. Philips et al. (2003) melakukan penelitian mengenai pengaruh beban pajak tangguhan terhadap manajemen laba pada perusahaan non finanial yang tercatat di New York Stock Exchange tahun 19942000. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa beban pajak tangguhan secara inkremental bermanfaat dibanding dengan akrual untuk mendeteksi manajemen laba.

Manajer memiliki berbagai alasan untuk melaporkan laba yang lebih rendah. Salah satu diantaranya adalah mengurangi political cost. Ukuran perusahaan (firm size) digunakan sebagai proksi dari political cost. Dalam penelitian ini, ukuran perusahaan dilihat dari jumlah total aktiva perusahaan tersebut. Semakin besar ukuran perusahaan tentu memiliki total aktiva yang relatif besar, sehingga dapat beroperasi dengan tingkat efisiensi yang lebih tinggi serta semakin besar peluang perusahaan untuk memperoleh laba dari operasinya. Penelitian Herni dan Susanto (2008) serta Handayani dan Rachadi (2009) membuktikan bahwa faktor ukuran perusahaan memiliki pengaruh terhadap manajemen laba.


Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini ingin menguji kembali penelitian sebelumnya, bagaimanakah pengaruh pajak dan ukuran perusahaan pada manajemen laba, yang berfokus pada dua motivasi manajemen laba menurut kajian Scott tersebut, yaitu motivasi politik dan motivasi perpajakan dengan hipotesis sebagai berikut.

H1: Pajak Penghasilan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.
H2: Ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap manajemen laba


METODE PENELITIAN


Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2010-2012 merupakan populasi dalam penelitian ini, dimana dengan metode purposive sampling terpilih 30 perusahaan sektor industri barang konsumsi sebagai sampel penelitian dengan total jumlah sampel selama tiga tahun periode amatan yaitu 90 perusahaan.

Proksi dari manajemen laba yang merupakan variabel terikat dalam penelitian ini tercermin dalam akrual diskresioner (DA) yang diukur dengan model jones modifikasian (Dechow et al. 1995). Persamaannya sebagai berikut


1)TA = Laba bersih – Arus kas aktivitas operasi……..……………......(1)
2)NDA = α1 (1/At-1) + α2 (ΔREVt-ΔRECt)/At-1) + α3 (PPEt/At-1) ............(2)
3)DA = TA/NDA………………….........................................................(3)

Keterangan:

TA = Total Akrual
NDA = Akrual Non Diskresioner
At-1 = Total aset pada periode t-1
ΔREVt = Perubahan pendapatan dalam periode t
ΔRECt = Perubahan piutang dalam periode t
PPEt = Property, Plan, and Equipment (aset tetap berwujud kotor) periode t

Pajak penghasilan sebagai variabel bebas pertama (X1) dalam penelitian ini diproksikan dengan menjumlahkan pajak kini dengan pajak tangguhan

perusahaan. Data diperoleh dari laporan laba rugi perusahaan.
Pajak Penghasilan = Log (pajak kini + pajak tangguhan)…………………(4)

Ukuran perusahaan sebagai variabel bebas kedua (X2) dalam penelitian ini diproksikan dengan total aktiva perusahaan, yang diperoleh dari Neraca perusahaan.

Ukuran perusahaan = Log (total aktiva)………………………….……….(5)

Teknik analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh pajak penghasilan dan ukuran perusahaan pada manajemen laba. Namun, sebelum melakukan regresi dilakukan uji asumsi klasik terlebih dahulu untuk mengetahui bahwa model regresi yang dibuat terbebas dari masalah multikolenieritas, heteroskedastisitas, autokorelasi serta masalah normalitas data.

Model regresi linier berganda penelitian ini ditunjukkan oleh persamaan berikut.
DAit = α + b1 TAX + b2 LG SIZE + e………………………….…………..(6)

Keterangan:
DA = discretionary accruals
α = konstanta
TAX = pajak penghasilan
LG SIZE = ukuran perusahaan
e = error

b1,b2 merupakan koefisien regresi yang menunjukkan angka peningkatan atau penurunan variabel terikat yang didasarkan pada variabel bebas.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Rangkuman dari hasil pengujian asumsi klasik ditunjukkan pada tabel 1 berikut.




Pada uji normalitas (0,228 > 0,05) yang artinya data berdistribusi normal. Hasil dari pengujian autokorelasi (1,935), dimana nilai dU = 1,70 dan 4-dU = 2,3. Sehingga nilai DW berada diantara 1,70 dengan 2,3. Uji multikolinearitas menunjukkan hasil kedua variabel memiliki nilai (tol 0,129 > 0,1 dan VIF 7,780 < 10). Uji heteroskedastisitas menunjukkan nilai Sig. abs. residual kedua variabel (0,768 dan 0,909 > 0,05). Keseluruhan hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa telah lolos dari uji asumsi klasik.



Hasil pengu.jian pada Tabel 2 mengenai pengaruh variabel pajak penghasilan pada manajemen laba menunjukkan bahwa variabel pajak penghasilan berpen.garuh ne.gatif pada praktik manajemen laba. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan pajak penghasilan akan menurunkan praktik manajemen laba, dikarenakan pajak secara umum memiliki aturan akuntansi tersendiri dalam menghitung pendapatan kena pajak dari adanya peraturan undang-undang yang berlaku sehingga seharusnya perpajakan tidak mempunyai peran besar dalam manajemen laba (Setiawati,2001). Temuan ini seja.lan den.gan pene.litian Wenni (2009) ya.ng menun.jukkan bahwa pajak penghasilan memiliki pengaruh negatif pada praktik manajemen laba. Hasil ini menunjukkan memang terdapat tindakan manajemen laba pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI namun pajak bukanlah menjadi pertimbangan perusahaan dalam melakukan manajemen laba. Hal ini bertentangan dengan motivasi penghematan pajak yang menjadi motivasi manajemen laba menurut Scott (2000). Hal ini terjadi dikarenakan perpajakan memiliki aturan tersendiri dalam menghitung pendapatan kena pajak.

Hasil pengujian pada Tabel 2 mengenai pengaruh variabel uku.ran peru.sahaan pada manajemen laba menun.jukkan ba.hwa variabel uku.ran peru.sahaan berpengaruh positif pada praktik manajemen laba. Berarti firm size (uku.ran peru.sahaan) dapat memotivasi pihak manajemen untuk melakukan manajemen laba. Semakin besar uku.ran peru.sahaan maka akan semakin besar peluang perusahaan memperoleh laba dari aktivitas bisnisnya. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan uku.ran peru.sahaan akan meningkatkan prak.tik mana.jemen la.ba. Temuan ini men.dukung hasil pen.elitian sebelumnya yaitu Kim et al. (2003), Halim dkk, (2005), Herni dan Susanto (2008), Budiasih (2009),

Roudotunnisa (2009), dan Nassirzadeh et al. (2012) yang menyatakan uku.ran peru.sahaan berpen.garuh pada manaj.emen la.ba. Hasil uji statistik tersebut dengan demikian memberikan temuan yang sejalan dengan political cost hypothesis (size hypothesis) dari Watts dan Zimmerman (1986) yang menunjukkan bahwa sema.kin besar uku.ran peru.sahaan, semakin memperbesar kemungkinan perusa.haan tersebut mem.ilih metode akun.tansi yang menu.runkan laba dengan tujuan mengurangi biaya politis guna menghindari tindakan pemerintah yang dinilai dapat mengurangi pendapatan perusahaan dengan menerapkan lebih banyak regulasi.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil pengujian maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut. Pajak penghasilan berpengaruh negatif terhadap praktik manajemen laba, yang berarti jika pajak penghasilan meningkat, maka akan mengakibatkan penurunan pada manajemen laba perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi periode 2010-2012. Uku.ran peru.sahaan berpengaruh positif terhadap praktik manajemen laba, yang berarti jika ukuran perusahaan meningkat, maka akan mengakibatkan peningkatan pada manajemen laba perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi periode 2010-2012.

Para pelaku pasar modal perlu berhati-hati ketika memutuskan untuk membeli saham-saham perusahaan yang relatif besar dalam industrinya. Apabila pengelolaan laba yang dilakukan bersifat oportunis, maka semakin tidak mencerminkan kinerja perusahaan yang sesungguhnya. Hal ini perlu menjadi perhatian investor dalam melakukan keputusan investasi. Uku.ran peru.sahaan dalam penelitian ini tidak mengkategorikan secara spesifik perusahaan sampel yang masuk dalam kategori perusahaan besar, perusahan menengah, maupun perusahaan kecil, dan hanya menggunakan sampel perusahaan manufaktur yang bergerak pada sektor barang konsumsi. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi pembuat peraturan yang dalam hal ini pemerintah dalam membuat peraturan-peraturan agar praktik manajemen laba tidak disalahgunakan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia khususnya. Penelitian selanjutnya diharapkan menambahkan jumlah variabel yang diteliti, jumlah sampel yang digunakan, serta menambahkan periode pengamatan sehingga diperoleh hasil penelitian yang lebih otentik. Pemilihan sampel selanjutnya diharapkan dilakukan pada sektor manufaktur lainnya, di luar sektor industri barang konsumsi.

https://www.startpage.com/do/asearch/?q=cekkembali.com&ia=web




  • Artikel (jurnal)dari kategori yang sama


    Komentar akan di phulis setelah di setujui
    Silahkan masukan huruf yang tertulis pada gambar di atas dengan benar.
     

    Isi tulisan akan diterbitkan dan hanya pemilik blog yang dapat menghapusnya.

    削除
    Pengaruh Pajak Penghasilan Dan Asset Perusahaan Pada Earnings Management
      Komentar(0)